Messed Up By Feelings

Nggak tahu kenapa, yang jelas aku sedang malas meng-update blog Sastra Inggris UGM 2007 yang (seharusnya) menjadi tempat anak-anak saat mereka sedang mencari info tentang tugas yang kadang diberikan para dosen secara kolektif.

I desperately need to write something. No matter what kind of piece of bullshit this writing will be, yang jelas aku musti nulis. Biar jari-jariku sekal-sekali menari di atas keyboard komputerku untuk mengekspresikan perasaanku yang akhir-akhir ini sering kacau seperti orang yang meracau keras-keras dalam tidurnya. Seriously, aku nggak tahu apa yang salah denganku tapi akhir-akhir ini perasaanku sering naik dan turun seenak udelnya tanpa mempertimbangkan akibat yang menimpaku.

Kalau ditanya apa sebabnya, aku bingung juga mau jawab apa. Aku sendiri nggak paham sama sekali. I totally don’t understand what I’m going through these days. I thought this kind of mess was only for teenagers. Tapi malah pas aku berada di fase remaja awal dan pertengahan – aku nggak merasa kekacauan seperti ini familier sama sekali. Justru di akhir masa remaja malah aku baru mengalami yang biasa dialami anak-anak yang baru puber. I mean, come on! Why now? Saat seharusnya yang aku pikirkan adalah masalah-masalah yang lebih penting dan seharusnya lebih bermanfaat ketimbang perasaan campur aduk yang rasanya sekacau masakanku.

Oh, akhir-akhir ini aku kok pingin bikin drama musikal yah? Yeah, aku tahu bikin drama musikal pasti ribet dan sepertinya mustahil ada yang berminat mengingat jenis-jenis orang di sekitarku dan kegiatan yang mereka ikuti. Tapi, tetep aja. Suatu saat aku akan bikin sebuah drama musikal. Sayangnya, masih belum ada ide cerita. Any suggestion?

Angin

Datang lagi sang angin
Yang berhembus hilangkan penatku
Dengan canda nakalnya
Dengan desah cumbunya
Yang pelan tapi pasti membawaku melayang

Mengapung di udara
Bersama angin yang lagi-lagi berhembus
Membelai, menggelitik

Sayang aku tak punya sayap
Tak ada debu peri dan pikiran bahagia

Dan aku hanya bisa menunggu
Hingga dedaunan bergemerisik
Membisikkan kedatangan sang angin

Hembusanmu semakin kuat terasa
wahai angin kawanku
Jangan salahkan jika nantinya
Aku pun ingin terbang sepertimu
Walau ke arah berbeda

Silly Things Just Happen

Pagi tadi jam 7 (pertama kalinya sampe di kampus on time sebelum kelas PROSA) anak-anak yang udah sampe pada ribet belajar buat ujian mid Metodologi Penelitian Bahasa yang akan dilangsungkan jam 9, pas setelah kelas Prosa. Lalu muncullah ide untuk bolos kuliah dan waktunya dipake buat belajar. Sebenernya Bay bilang belajarnya di Jembatan Budaya (JemBud) aja, tapi berhubung kelasnnya deket2 situ, pada ogah. Kan nggak lucu kalau mbolos tapi keliatan ma dosennya. Lalu Meta mengusulkan untuk belajar di Pusat Pelatihan Bahasa (PPB) aja, tempat ujian akan dilangsungkan. Nah, karena PPB baru buka jam 8, aku bilang ke anak-anak, “Bolos di Bonbin aja (kantin di FIB), bisa sekalian sarapan. Eike laper beud nih…”

Akhirnya kami pergi ke Bonbin. Barisan paling depan: Meta, aku. Diikuti oleh: Mbak Dhiny (angkatan 2006 yang masih suka ngikut kuliah kami ;p). Begitu sampe di Bonbin, pas mau milih tempat duduk… aku melihat sesuatu. Jeng jeng jeeeeng… ternyata Pak Dayat (dosen Prosa) lagi sarapan di Bonbin. (T.T) Kontan aku ketawa ngakak. Metcha ketawa juga sih, tapi ketawanya wagu. Terus muncul Mbak Dhiny yang juga langsung ngakak begitu ngeliat Pak Dayat.

Aiiiih… salah jurusan ki. Niat mau mbolos malah jadi ketemu sama dosennya. Ketauan deh…

Begitu Pak Dayat tau tentang niatan kami yang sebenernya mau bolos kelas beliau, eeh… doski malah ketawa ngakak juga. Malah ngajarin, besok lagi biasa aja, pura2 ga liat gitu. (Ini sebenernya membenarkan tindakan bolos atau gimana sih?)

Yah, begitulah akhirnya kami berakhir di Bonbin, ngobrol belajar buat ujian Metopen Bahasa yang bikin gemes. Males cerita ah kalo bagian ujiannya…

I’m Back (Again)

Akhirnya aku ganti theme setelah bertahun-tahun pake theme yang itu-itu doang. Sama-sama ijo sih, tapi pokoknya suasana baru, semangat baru!

Hari ini aku sudah memutuskan untuk berusaha kembali eksis di dunia perblogan.

Setelah 5 hari sibuk riweuh di Gamafest 2009 bersama anak-anak gokil nan menyenangkan akhirnya sekarang aku jadi Read the rest of this entry »

Getting My Head Straight

It’s been a long long time since my last post. I know. Aku mencoba untuk ganti alamat blog, tapi ternyata susah juga publikasinya. So I guess I’ll stick with this one for a while, paling nggak selama aku belum ada pikiran untuk ganti blog lagi. Hohoho…

Beberapa hari ini parah sangat. Kurang tidur, kurang istirahat. Sebagian karena Gamafest, sebagian karena Virtual Villagers, sebagian lagi karena tugas yang menggila. Oh Lord! What is this world coming to? Tambah lagi aku belum menyiapkan APAPUN untuk apply ke AMINEF padahal paling lambat apply tanggal 16.. wth…

Seriously, I have to get my head straight.

Cerita Menarik Hari Kemarin

Pernah nggak sih, kenal orang yang tiba-tiba berubah jadi aneh dan marmos dan membuat kamu pingin nabokin dia setiap kali dia berulah?

Aku punya. Sekelas pula.

Kemarin, ada kuliah jam 3 dengan Pak Bakdi Soemanto. Terus tiba2, seorang teman sekelas yang lagi sok tengil dalam rangka menjadi ‘womenlover‘ (whatever it means) itu, Read the rest of this entry »

WHAT IS LITERATURE : Defining and Determining Literature and Non-Literature

Literature, unlike Mathematics and Physics, is not an exact branch of knowledge. While in Mathematics 2 multiplied by 2 equals 4, it doesn’t have to be that way in literature. This is the main reason why when it comes to the question of what literature is there is no exact definition.

Muslim scholar and philosopher Imam Ja’far Al-Sadiq defined literature as ‘the garment which one puts on what they say or write so that it Read the rest of this entry »

Women’s Rights Issue Behind Linda Pastan’s Marks

Marks
By: Linda Pastan

My husband gives me an A
for last night’s supper,
an incomplete for my ironing,
a B plus in bed. Read the rest of this entry »

A Conversation in a Cab on My Way Home the Other Night

I had just finished having dinner at Dixie that night. Taking a cab home seemed a wise decision since it was pretty late and I was sure no one at home would want to pick me up. So I waited for a cab on the sidewalk before Dixie. It needed only about ten minutes until a cab finally stopped at my wave.

“Jokteng wetan, please.” I said to the cab driver right after I landed Read the rest of this entry »

An Amatory Verse

Haze in the eyes
Sweat dripping on the face
Breathing slowly, hardly
The heat on the skin
Send fire on every touch
Rising to the wails, the sighs
The lament of desire
Rising to the peak of Eden
Then slowly led back to Earth
Soaked in pleasure
From the moment to treasure

« Older entries