Tau aksara Jawa? Pernah denger dongeng Ajisaka?
Menurutku, aksara Jawa tuh penting banged mengingat aku adalah orang Jawa (walo cuma Jawa keturunan), aksara Jawa adalah bagian yang sangat penting dari kebudayaan Jawa, dan (ini yang bahaya) sekarang lagi marak2nya isu tentang hak paten sebuah budaya. Tolong ya, aksara Jawa itu BERASAL DARI JAWA (dari namanya juga ketauan kan!) MILIK INDONESIA, jadi buat negara2 lain yang seneng sama aksara Jawa, kalo seneng ya seneng aja. Ngeliat boleh, meneliti boleh, make juga boleh, tapi JANGAN sekali2 MENGAKU MEMILIKI aksara ini. Oke?! Jangan bikin emosi!
Oke, jadi, ini nih yang disebut aksara Jawa :
![]()
Aksara Jawa ini punya sejarahnya sendiri, legenda atau mitos gitu, yang dipercaya sebagai asal mula munculnya aksara ini. Sayangnya, ga banyak anak muda Indonesia sekarang yang peduli, apalagi tau tentang kisah2 kayak gini yang (lagi-lagi) merupakan komponen dari kebudayaan Indonesia. Walopun ada juga kontroversi ttg cerita ini (kapan2 aku post), cerita yang aku tampilin di bawah ini adalah cerita yang aku kenal sejak kecil. Oiya, aku pernah nyeritain kisah ini ke temenku dari California, USA. Katanya, kisah ini bagus banged, artistik banged. Orang luar negeri aja suka sama cerita ini, masa kita yang orang Indonesia malah nyuekin cerita2 kayak gini. Kita ga perlu percaya cerita ini bener2 terjadi, karena emang ga ada jaminan cerita ini beneran pernah terjadi, tapi kita mustinya tau tentang cerita2 tradisional kayak gini… Pertama, untuk menjaga kebudayaan kita, identitas kita. Kedua, apa ya ga malu, masak orang Indonesia ga tau cerita rakyat dari Indonesia? Minimal dari daerah sendiri deh… Ketiga, untuk menjaga keaslian budaya kita. Keempat, untuk menjaga biar budaya kita ga dicomot oleh negara lain dan diaku sebagai budaya sana (which is soooooo damn irritating!)
Haduh, kebanyakan ngomong kayaknya.. Ya sudah, ini dia, kisah Ajisaka!
Jaman dulu, di Pulau Majethi, hidup seorang satria bernama Ajisaka. Selain ganteng, Ajisaka juga punya ilmu tinggi dan sakti. Ajisaka punya dua orang punggawa bernama Dora san Sembada. Dua orang itu sangat setia dan nurut sama Ajisaka. Suatu hari, Ajisaka ingin pergi berkelana, bertualang meninggalkan Pulau Majethi. Dora pergi menemani Ajisaka sedangkan Sembada tetap tinggal di Pulau Majethi karena Ajisaka memerintahkan Sembada untuk menjaga pusaka Ajisaka yg paling sakti. Ajisaka berpesan pada Sembada bahwa Sembada ga boleh menyerahkan pusaka itu kepada siapapun kecuali Ajisaka.
Nah, pada waktu itu di Jawa ada negara yang terkenal makmur, aman, dan damai, yang berjudul Medhangkamulan. Negara itu dipimpin oleh Prabu Dewatacengkar, raja yang berbudi luhur dan bijaksana. Seuatu hari, juru masak kerajaan tidak sengaja memotong jarinya waktu masak. Juru masak itu ga sadar bahwa potongan jarinya masuk ke hidangan yang akan disuguhkan kepada Sang Raja. Tanpa sengaja juga, jari itu termakan oleh Prabu Dewatacengkar. Ga disangka, Prabu Dewatacengkar merasa daging yang dia makan sangat lezat, kemudian ia mengutus patihnya menanyai juru masak kerajaan. Ternyata kemudian diketahui bahwa yang tadi dimakan oleh Prabu Dewatacengkar adalah daging manusia, ia memerintahkan kepada patihnya untuk menyiapkan seorang rakyatnya untuk disantap setiap harinya. Sejak itu Prabu Dewatacengkar punya hobi baru, yaitu makan danging manusia. Wataknya berubah jadi jahat dan senang melihat orang menderita. Negara itu berubah jadi negara yang sepi karena satu per satu rakyatnya dimakan oleh rajanya, ada juga rakyat yang lari menyelamatkan diri. Sang Patih bingung, karena ga ada lagi rakyat yang bisa disuguhkan kepada rajanya.
Saat itulah Ajisaka bersama Dora sampe di Medhangkamulan. Ajisaka heran melihat keadaan negara yang sunyi dan menyeramkan itu, kemudian ia mencari tahu sebabnya. Setelah tau apa yang terjadi di Medhangkamulan. Ajisaka lalu menghadap Patih, menyatakan bahwa ia sanggup menjadi santapan Sang Raja. Awalnya Sang Patih tidak mengijinkan Ajisaka yang masih muda dan (ehem..) ganteng jadi santapan Prabu Dewatacengkar, tapi Ajisaka tetep maksa sampe akhirnya dia dibawa juga untuk menghadap Prabu Dwatacengkar. Sang Prabu juga heran, kenapa orang yang masih muda dan tampan mau-mau aja jadi santapannya. Ajisaka mengajukan syarat, dia rela dimakan Sang Prabu asal dia dihadiahi tanah seluas ikat kepalanya. Selain itu, Ajisaka juga minta Prabu Dewatacengkar sendiri yang mengukur tanah tersebut. Permintaan itu dikabulkan oleh Sang Prabu. Ajisaka kemudian meminta Prabu Dewatacengkar menarik salah satu ujung ikat kepalanya. Ajaibnya, ikat kepala itu mulur terus kayak ga ada habisnya. Prabu Dewatacengkar terpaksa mundur dan mundur terus mengikuti ikat kepala itu sampe di tepi laut selatan. Ajisaka mengibaska ikat kepala tersebut, hal ini membuat Prabu Dewatacengkar terlempar ke laut. Wujud Prabu Dewatacengkar lalu berubah menjadi buaya putih, sedangkan Ajisaka menjadi raja di Medhangkamulan.
Setelah jadi raja, Ajisaka menyuruh Dora pergi ke Pulao Majethi untuk ngambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Sampe di Pulau Majethi, Dora menjelaskan pada Sembada bahwa dia datang atas perintah Ajisaka untuk mengambil pusaka yang dijaga Sembada. Sembada yang patuh pada pesan Ajisaka ga mau ngasih pusaka itu ke Dora. Dora memaksa agar pusaka itu diserahkan ke dia. Akhirnya dua orang itu bertarung. Karena dua-duanya sama-sama sakti, pertarungan berlangsung seru sampai mereka berdua tewas.
Prabu Ajisaka mendengar kabar kematian Dora san Sembada. Dia menyesal mengingat kelalaiannya dan kesetiaan Dora dan Sembada. Untuk mengabadkan dua punggawanya itu Ajisaka menciptakan sebuah aksara yang bunyinya :
ha na ca ra ka
Ana utusan (ada utusan)
da ta sa wa la
Padha kekerengan (saling berselisih pendapat)
pa dha ja ya nya
Padha digdayané (sama-sama sakti)
ma ga ba tha nga
Padha dadi bathangé (sama-sama mejadi mayat)
That’s a wrap! Itu dia kisah Ajisaka. Tell me what ya think of it. Kutunggu komenmu!
gie_ndut said,
December 21, 2007 at 9:23 pm
Salut nie aQ….
Hari gini masih ada anak muda yang inget sejarah budaya bangsa…
AshSays :
Ya, habis keluarga bapakku Jawa tulen, eyangku adalah orang yang seneng banged sama budaya2 Jawa. Dah gitu, aku juga seneng denger cerita2 sejarah gitu. Apalagi sekarang aku kuliah di Fakultas Ilmu Budaya, kalo ga tau budaya sendiri, walopun secuil, aneh kan? (Yah, walopun banyak temen2ku sefakultas yang juga hardly remember these stories) DAN aku juga emosi mendengar budaya kita dicomotin orang2 luar. Makanya aku pengen mendokumentasikan budaya2 kita di sini. Walopun mungkin aku ga bisa mendokumentasikan banyak, dan hal ini juga ga berarti banyak, paling enggak aku udah bikin statement yang nge-claim budaya kita sendiri sebagai milik bangsa Indonesia!
Mat Eko said,
December 28, 2007 at 11:31 am
Wah, tau cerita itu dari mana? turun-temurun atau dari buku? kalo dari buku buku apa itu? kasih tau aku dong… Aku taunya cuma buku cerita dongeng rakyat indonesia (hanya cerita singkat). Aku lagi mau bikin komik Ajisaka nih…
AshSays :
Cerita itu.. dulu pernah diceritain guru pas masih SD, di buku pelajaran Bhs Jawa yg dulu (waktu SD) kayaknya ada dongengnya, tapi sekarang bukunya udah susah dicari. Ntu aku dapet dari nginget2 ajah, baca-baca, sama tanya2 sama eyangku yang rada2 maniak budaya Jawa. Hohohoho…
s3nth3t said,
January 20, 2008 at 2:53 am
aku dukung perjuanganmu kawan….
saat ini aku lagi ambil skripsi jurusan teknologi informatika.aku mo buat skripsi ttg budaya jawa.semoga aja kesampaian n dise7i ama dosen.
aku anak ‘wong deso’,aku dari wonogiri.aku bangga dengan jawaku.aku jg masih mempelajari ttg budaya jawa lebih dalam.MARI KITA SESAMA KETURUNAN ORANG JAWA DAN ORANG JAWA SAMA2 MELESTARIKAN BUDAYA LELUHUR!!!!!!!!
AshSays :
Gyahahahaha!!! Makasih, makasih!
Wei, TI di mana?
Yah, moga2 disetujuilah. Aku doakan. Biar cepet lulus, ya to?
YO! AYOOOOO!!!!
DiTa_bLoOm 50`s said,
January 21, 2008 at 12:36 pm
UoYyY…..!
aLLoUw
SeSaMa PgEmAr “MaSa LaLu”!
TrUz BkArYa, Y ChAyAnK….
AshSays :
Hehehehe, aku jadi semangat kalo ada yg suka dengan tulisanku.
Makasih, makasih.
DiTa_bLoOm 50`s said,
January 21, 2008 at 12:39 pm
OiYyA….
Q jUgA mw SaY ThX,,
CuZ KiSaH AjIsAkA KrYaMu iNi Aq PkE wAt TgAs SjArAh…
ThX bEuD yA….
AshSays :
Oke, sama2. Tapi jangan bosen baca2 blogku yaph!
ummirosy said,
March 24, 2008 at 9:28 am
g la yauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
AshSays :
G apa?
pyur said,
May 20, 2008 at 6:05 am
q lali sing artine do to so wo lo tapi siki wes reti meneh mergo sliramu hiii…matur suwun yo…sok crito op neh? po ngerti ku isoh turu mergo critamu haaaa…. tak enteni lho gen tmbah ngerti jowo,+isoh nguri-nguri kabudayan jawi.
iyo duwe trik gen isoh nulis jowo ra? masalahe kat SD mpe siki ratau isoh nulis jow? ngertine ro karo nyo thokpiye jal?kebangeten ra? nyuwun pangapunten menawi wonten klenta-klentune atur!!!! tiang wonogiri wetan….
AshSays :
Hohohoh… makasih atas responmu yah. Kapan2 kalo ada kesempatan aku cerita2 lagi dah. Trik buat bisa nulis jawa?
Umm…. ada. coba aja nulis berulang kali. Lama2 kan pasti bisa juga.
Hehehe…
D_chubz said,
August 3, 2008 at 9:02 pm
Thankz berat ya, kak! Q lg pusing gara2 cari ceritanya aji saka. coz besok ada pelajaran bahasa jawa, dan yang ga bisa jawab dijinggit(ditarik godek nya) gtu! Q takut bgd.. soale pasti sakit banget tuh. hehehe..
tp habis liat blog seng kakak tulis, aku jadi g bingung lagi. thank you very much for you! hohohohohohoho…
BUDAYA JAWA is D BeST!! Matur nuwun..
AshSays :
Itu serius?
Ya, sama2, aku senang bisa membantu.
Memang budaya Jawa oye, tapi budaya lain juga ga kalah oke.
lita said,
September 1, 2008 at 11:57 am
angelita_9a_04_Oke, jadi, ini nih yang disebut aksara Jawa :
aksara Jawa
Aksara Jawa ini punya sejarahnya sendiri, legenda atau mitos gitu, yang dipercaya sebagai asal mula munculnya aksara ini. Sayangnya, ga banyak anak muda Indonesia sekarang yang peduli, apalagi tau tentang kisah2 kayak gini yang (lagi-lagi) merupakan komponen dari kebudayaan Indonesia. Walopun ada juga kontroversi ttg cerita ini (kapan2 aku post), cerita yang aku tampilin di bawah ini adalah cerita yang aku kenal sejak kecil. Oiya, aku pernah nyeritain kisah ini ke temenku dari California, USA. Katanya, kisah ini bagus banged, artistik banged. Orang luar negeri aja suka sama cerita ini, masa kita yang orang Indonesia malah nyuekin cerita2 kayak gini. Kita ga perlu percaya cerita ini bener2 terjadi, karena emang ga ada jaminan cerita ini beneran pernah terjadi, tapi kita mustinya tau tentang cerita2 tradisional kayak gini… Pertama, untuk menjaga kebudayaan kita, identitas kita. Kedua, apa ya ga malu, masak orang Indonesia ga tau cerita rakyat dari Indonesia? Minimal dari daerah sendiri deh… Ketiga, untuk menjaga keaslian budaya kita. Keempat, untuk menjaga biar budaya kita ga dicomot oleh negara lain dan diaku sebagai budaya sana (which is soooooo damn irritating!)
Haduh, kebanyakan ngomong kayaknya.. Ya sudah, ini dia, kisah Ajisaka!
Jaman dulu, di Pulau Majethi, hidup seorang satria bernama Ajisaka. Selain ganteng, Ajisaka juga punya ilmu tinggi dan sakti. Ajisaka punya dua orang punggawa bernama Dora san Sembada. Dua orang itu sangat setia dan nurut sama Ajisaka. Suatu hari, Ajisaka ingin pergi berkelana, bertualang meninggalkan Pulau Majethi. Dora pergi menemani Ajisaka sedangkan Sembada tetap tinggal di Pulau Majethi karena Ajisaka memerintahkan Sembada untuk menjaga pusaka Ajisaka yg paling sakti. Ajisaka berpesan pada Sembada bahwa Sembada ga boleh menyerahkan pusaka itu kepada siapapun kecuali Ajisaka.
Nah, pada waktu itu di Jawa ada negara yang terkenal makmur, aman, dan damai, yang berjudul Medhangkamulan. Negara itu dipimpin oleh Prabu Dewatacengkar, raja yang berbudi luhur dan bijaksana. Seuatu hari, juru masak kerajaan tidak sengaja memotong jarinya waktu masak. Juru masak itu ga sadar bahwa potongan jarinya masuk ke hidangan yang akan disuguhkan kepada Sang Raja. Tanpa sengaja juga, jari itu termakan oleh Prabu Dewatacengkar. Ga disangka, Prabu Dewatacengkar merasa daging yang dia makan sangat lezat, kemudian ia mengutus patihnya menanyai juru masak kerajaan. Ternyata kemudian diketahui bahwa yang tadi dimakan oleh Prabu Dewatacengkar adalah daging manusia, ia memerintahkan kepada patihnya untuk menyiapkan seorang rakyatnya untuk disantap setiap harinya. Sejak itu Prabu Dewatacengkar punya hobi baru, yaitu makan danging manusia. Wataknya berubah jadi jahat dan senang melihat orang menderita. Negara itu berubah jadi negara yang sepi karena satu per satu rakyatnya dimakan oleh rajanya, ada juga rakyat yang lari menyelamatkan diri. Sang Patih bingung, karena ga ada lagi rakyat yang bisa disuguhkan kepada rajanya.
Saat itulah Ajisaka bersama Dora sampe di Medhangkamulan. Ajisaka heran melihat keadaan negara yang sunyi dan menyeramkan itu, kemudian ia mencari tahu sebabnya. Setelah tau apa yang terjadi di Medhangkamulan. Ajisaka lalu menghadap Patih, menyatakan bahwa ia sanggup menjadi santapan Sang Raja. Awalnya Sang Patih tidak mengijinkan Ajisaka yang masih muda dan (ehem..) ganteng jadi santapan Prabu Dewatacengkar, tapi Ajisaka tetep maksa sampe akhirnya dia dibawa juga untuk menghadap Prabu Dwatacengkar. Sang Prabu juga heran, kenapa orang yang masih muda dan tampan mau-mau aja jadi santapannya. Ajisaka mengajukan syarat, dia rela dimakan Sang Prabu asal dia dihadiahi tanah seluas ikat kepalanya. Selain itu, Ajisaka juga minta Prabu Dewatacengkar sendiri yang mengukur tanah tersebut. Permintaan itu dikabulkan oleh Sang Prabu. Ajisaka kemudian meminta Prabu Dewatacengkar menarik salah satu ujung ikat kepalanya. Ajaibnya, ikat kepala itu mulur terus kayak ga ada habisnya. Prabu Dewatacengkar terpaksa mundur dan mundur terus mengikuti ikat kepala itu sampe di tepi laut selatan. Ajisaka mengibaska ikat kepala tersebut, hal ini membuat Prabu Dewatacengkar terlempar ke laut. Wujud Prabu Dewatacengkar lalu berubah menjadi buaya putih, sedangkan Ajisaka menjadi raja di Medhangkamulan.
Setelah jadi raja, Ajisaka menyuruh Dora pergi ke Pulao Majethi untuk ngambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Sampe di Pulau Majethi, Dora menjelaskan pada Sembada bahwa dia datang atas perintah Ajisaka untuk mengambil pusaka yang dijaga Sembada. Sembada yang patuh pada pesan Ajisaka ga mau ngasih pusaka itu ke Dora. Dora memaksa agar pusaka itu diserahkan ke dia. Akhirnya dua orang itu bertarung. Karena dua-duanya sama-sama sakti, pertarungan berlangsung seru sampai mereka berdua tewas.
Prabu Ajisaka mendengar kabar kematian Dora san Sembada. Dia menyesal mengingat kelalaiannya dan kesetiaan Dora dan Sembada. Untuk mengabadkan dua punggawanya itu Ajisaka menciptakan sebuah aksara yang bunyinya :
ha na ca ra ka
Ana utusan (ada utusan)
da ta sa wa la
Padha kekerengan (saling berselisih pendapat)
pa dha ja ya nya
Padha digdayané (sama-sama sakti)
ma ga ba tha nga
Padha dadi bathangé (sama-sama mejadi mayat)
That’s a wrap! Itu dia kisah Ajisaka. Tell me what ya think of it. Kutunggu komenmu!
8 Responses so far »
1.
1
gie_ndut said,
December 21, 2007 @ 9:23 pm
Salut nie aQ….
Hari gini masih ada anak muda yang inget sejarah budaya bangsa…
AshSays :
Ya, habis keluarga bapakku Jawa tulen, eyangku adalah orang yang seneng banged sama budaya2 Jawa. Dah gitu, aku juga seneng denger cerita2 sejarah gitu. Apalagi sekarang aku kuliah di Fakultas Ilmu Budaya, kalo ga tau budaya sendiri, walopun secuil, aneh kan? (Yah, walopun banyak temen2ku sefakultas yang juga hardly remember these stories) DAN aku juga emosi mendengar budaya kita dicomotin orang2 luar. Makanya aku pengen mendokumentasikan budaya2 kita di sini. Walopun mungkin aku ga bisa mendokumentasikan banyak, dan hal ini juga ga berarti banyak, paling enggak aku udah bikin statement yang nge-claim budaya kita sendiri sebagai milik bangsa Indonesia!
2.
2
Mat Eko said,
December 28, 2007 @ 11:31 am
Wah, tau cerita itu dari mana? turun-temurun atau dari buku? kalo dari buku buku apa itu? kasih tau aku dong… Aku taunya cuma buku cerita dongeng rakyat indonesia (hanya cerita singkat). Aku lagi mau bikin komik Ajisaka nih…
AshSays :
Cerita itu.. dulu pernah diceritain guru pas masih SD, di buku pelajaran Bhs Jawa yg dulu (waktu SD) kayaknya ada dongengnya, tapi sekarang bukunya udah susah dicari. Ntu aku dapet dari nginget2 ajah, baca-baca, sama tanya2 sama eyangku yang rada2 maniak budaya Jawa. Hohohoho…
3.
3
s3nth3t said,
January 20, 2008 @ 2:53 am
aku dukung perjuanganmu kawan….
saat ini aku lagi ambil skripsi jurusan teknologi informatika.aku mo buat skripsi ttg budaya jawa.semoga aja kesampaian n dise7i ama dosen.
aku anak ‘wong deso’,aku dari wonogiri.aku bangga dengan jawaku.aku jg masih mempelajari ttg budaya jawa lebih dalam.MARI KITA SESAMA KETURUNAN ORANG JAWA DAN ORANG JAWA SAMA2 MELESTARIKAN BUDAYA LELUHUR!!!!!!!!
AshSays :
Gyahahahaha!!! Makasih, makasih!
Wei, TI di mana?
Yah, moga2 disetujuilah. Aku doakan. Biar cepet lulus, ya to?
YO! AYOOOOO!!!!
4.
4
DiTa_bLoOm 50`s said,
January 21, 2008 @ 12:36 pm
UoYyY…..!
aLLoUw
SeSaMa PgEmAr “MaSa LaLu”!
TrUz BkArYa, Y ChAyAnK….
AshSays :
Hehehehe, aku jadi semangat kalo ada yg suka dengan tulisanku.
Makasih, makasih.
5.
5
DiTa_bLoOm 50`s said,
January 21, 2008 @ 12:39 pm
OiYyA….
Q jUgA mw SaY ThX,,
CuZ KiSaH AjIsAkA KrYaMu iNi Aq PkE wAt TgAs SjArAh…
ThX bEuD yA….
AshSays :
Oke, sama2. Tapi jangan bosen baca2 blogku yaph!
6.
6
ummirosy said,
March 24, 2008 @ 9:28 am
g la yauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
AshSays :
G apa?
7.
7
pyur said,
May 20, 2008 @ 6:05 am
q lali sing artine do to so wo lo tapi siki wes reti meneh mergo sliramu hiii…matur suwun yo…sok crito op neh? po ngerti ku isoh turu mergo critamu haaaa…. tak enteni lho gen tmbah ngerti jowo,+isoh nguri-nguri kabudayan jawi.
iyo duwe trik gen isoh nulis jowo ra? masalahe kat SD mpe siki ratau isoh nulis jow? ngertine ro karo nyo thokpiye jal?kebangeten ra? nyuwun pangapunten menawi wonten klenta-klentune atur!!!! tiang wonogiri wetan….
AshSays :
Hohohoh… makasih atas responmu yah. Kapan2 kalo ada kesempatan aku cerita2 lagi dah. Trik buat bisa nulis jawa?
Umm…. ada. coba aja nulis berulang kali. Lama2 kan pasti bisa juga.
Hehehe…
8.
8
D_chubz said,
August 3, 2008 @ 9:02 pm
Thankz berat ya, kak! Q lg pusing gara2 cari ceritanya aji saka. coz besok ada pelajaran bahasa jawa, dan yang ga bisa jawab dijinggit(ditarik godek nya) gtu! Q takut bgd.. soale pasti sakit banget tuh. hehehe..
tp habis liat blog seng kakak tulis, aku jadi g bingung lagi. thank you very much for you! hohohohohohoho…
BUDAYA JAWA is D BeST!! Matur nuwun..
AshSays :
Itu serius?
Ya, sama2, aku senang bisa membantu.
Memang budaya Jawa oye, tapi budaya lain juga ga kalah oke.
Venosa Arrumi said,
September 29, 2008 at 1:55 am
kayaknya kurang lengkap deh sejarahnya.
saya dengar dibalik tiap2 aksara jawa mengandung arti masing-2 nya
seperti Ha artinya Hilangnya suatu permulaan

Na artinya telah datang suatu petunjuk alam
Dst
AshSays :
Waaah.. maap deh. Namanya juga manusia, jadi ga sempurna. PLUS aku juga belum sampe level mendalami kok. Aku cuma mengetahui aja.
Makasih kritiknya.
Estetika said,
October 7, 2008 at 2:07 pm
HIDUP AKSARA JAWA!!!!!!!!!!
Kawan kita sependapat! Sudah saatnya kita menggugah rekan-rekan setanah air untuk menunjukkan nasionalisme untuk melestarikan warisan para pahlawan! Jangan sampai ada cecunguk, kutu, anjing, ataupun celeng, yah pokoknya yang pantas buat nereka yang telah mencuri kebudayaan kita, Malingsia misalnya. Untuk tambahan, aku udah baca tentang sejarah aksara jawa. sebenarnya ada dua versi tentang sejarah lahirnya aksara jawa. Yang pertama adalah versi dongeng seperti yang kamu tulis dan yang kedua adalah versi sejarah. Versi sejarahnya, akar dari aksara jawa adalah huruf Pallawa yang kemudian mengalami revolusi (kayak IPS aja…) menjadi aksara Majapahit Lama, lalu aksara majapahit baru, lalu aksara …(aku lupa) en barulah menjadi aksara jawa. Dan dari sejarah itu pula mengemukakan bahwa nenek moyang aksara Pallawa berasal dari tanah Hindustan. Dan benar pulalah bahwqa Ajisaka berasal dari tanah Hindustan. bagaimanapun Aksara Jawa adalah aksara yang telah lahir di Jawa dan menjadi milik orang Jawa. aksara Jawa kita berbeda dengan aksara India.
Yah, hanya itulah yang tau.
Btw, aku mau sharing neh.
Aku kuliah di jurusan bahasa Inggris tapi aku belajar bahasa Kawi secara autodidak, kelak aku bercita-cita menjadi sastrawan Jawa. aku ingin membawa bahasa Jawa go internasional. Boleh kan bermimpi? Andrea Hirata pun sampai ke Sorbonne karena bermimpi! Saat aku belajar bahasa kawi, teman sekos-ku malah ngejek, “Ngapain sih belajar bahasa Kawi? nggak efektif tau!” Hih, dasar ga cinta budaya sendiri. menurutku itu adalah bagian dari sejarah bahasa Jawa, en kita dituntut tanggung jawab untuk melestarikan budaya Jawa. Ya kan? Jangan biarkan budaya kita punah tertelan budaya impor sing ora jelas jluntrungane, yo po ra?
AshSays :
Eh, sama dunk! Aku juga belajar Inggris, tapi aku Sastra Inggris.
Kenapa kamu ga sekalian masuk Sastra Jawa ajah?
Wah, aku ga setuju tuh sama temen kos-mu. Sekarang emang banyak orang yang ngomong gitu, kaum mayoritas. Tapi ntar kalo Bahasa Kawi dah diklaim sama negara lain, pasti banyak dari kaum mayoritas itu yang ga terima dan baru merasa bahwa itu adalah budaya kita. Udah kejadian kan sama batik. dulu batik disepelekan, sekarang banyak banget orang yang melestarikan batik dengan cara mengenakan busana batik di hampir segala acara. Thanks to Malaysia yang udah mengingatkan kaum mayoritas bahwa batik itu milik Indonesia.
Hehe..
Hariyanto said,
November 2, 2008 at 6:48 am
pulau majethi sekarang sudah berubah nama menjadi pulau Bawean. disana masih banyak prasasti tentang aji saka yang berusia lebih tua dari candi borobudur itu terlihat dari tahun pembuatan yang tertera pada prasasti tersebut. sudah pernahkan orang jawa melihat prasasti itu?
AshSays :
Kalau saya sendiri, jujur, belum pernah (keterbatasan waktu, pengetahuan, biaya juga).
Kalau orang Jawa pada umumnya…. saya ga tau. Bikin polling aja mau?
galih said,
November 10, 2008 at 8:38 pm
mass…
barukk klinting nya mana???
AshSays :
1. Aku MBAK tau, bukan mas… huhuhu….
2. Maaf sekali aku belum smepat nulis2 lebih banyak!
Dee said,
November 17, 2008 at 12:13 pm
aduhh…. udah nulis panjang lebar tapi tiba2 connectionnya keputus!! huhhhh… sebell…
eniwey – bottom line g salut sama isi blog ini! n will visit again n again
ada beberapa hal yg pengen g diskusiin kalo boleh minta emailnya Ashiiqa?
Cheers
AshSays :
Waduh, sayang sekali…
Makasih tapi ya, komen dan epresiasinya.
Kalau mau diskusi, aku dah kirim email ke kamu (menurut email adress yang kamu pasang di komen ini). Tapi kalo ga nyampe, emailku tercantum di blogku yg halaman ASHIIQA. Oke?
Sib!
egg said,
November 22, 2008 at 4:28 pm
aku pengen belajar bahasa kawi…..
^_^
AshSays :
Sayangnya ga ada les2an yang ngajar Bahasa Kawi yah? Atau aku aja yg belum tau ni?
IcKa said,
November 27, 2008 at 2:16 pm
Wuahh.,.,.,
Ternyata budaya jawa jg gk kalah penting,.,.,.!!!!!
Seneng nih bs jd orang campuran 2 budaya,.,..
hihihi…..
AshSays :
Jelas! Di dunia ini, ga ada budaya yang lebih penting daripada budaya lainnya, karena semua budaya merupakan hasil olah pikir manusia. Semua budaya itu sama – sejajar.
Yang beda cuma bagaimana cara manusia itu menghargai dan memperlakukan budaya.
Misal : Di Indonesia budaya berat lebih disukai, padahal di dunia barat, budaya Indonesia dianggap lebih menarik. Padahal pada hakekatnya, budaya keduanya (Indonesia dan dunia barat) sama2 menarik.
ni mirah said,
November 29, 2008 at 3:18 am
salamu’alaikumsalam…
matur nuwun internet,matur nuwun Ash
q wes suwe nggoleki crita asal mulane tanah jawi, asal mulane aksara jawa. q takon menyang eyangq, tp ora pernah diwenehi weruh. akhire takon menyang kancaq sing ngerti, tp critane kurang lengkap.
tp yo wis lumayan, deweke wes ngajak q menyang pesareane mbah setyo alias sembada lan pesareane mbah tuhu alias dora.
yen pengen ngerti pesareane…emeil q ae yo >:/
salamu’alaikumsalam
AshSays :
Wassalamualaikum…
Nggih, sami2…
Ooooh… ada beneran yah kuburannya? Di mana?
Edelweise said,
December 3, 2008 at 12:21 pm
Gw salut n bangga dg ide sampean membuat site yg mengulas ttng ksh pra leluhur qt=b
. klo bs + lg dg mengulas pra leluhur qt yg laen.Sprti SYECH ABDUL KODIR JAELANI. Gw ska bngt dg hal2 yg menyangkut dg pra leluhur,BRAVO!! Maturnuwun
AshSays :
Makasih…
Tapi sebenernya blog ini membahas tentang segalanya. Segalanya yg bisa saya bahas. Jadi scope-nya ga terbatas.
Tapi lagi, emang saya juga suka cerita2 ttg masa lampau. Hehe..
Ady Surahmad said,
January 21, 2009 at 10:10 am
moso oloh………
saia kira nih udah sepi peminat kisah2 kayak gini!!!!
g tau nya masya’ allah……..
matur nuwon sanget yuk, emank kulo niki tiang jawi sami kayak sampean yuk…. ju2r da 3 tauh kulo orep teng jambi se waktu kcik kulo tinggal kaleh nenek sama kakek d jawa tepatnya d desa sumber tebu
baru kali ini aku denger kisah yg g jlas tp muanteb
slama ini aku tau man huruf jawa saja tp da 6 taun aku g blajar nulis jawa banyak lupa nya….. heheheheheheheehheheeh
emank susah basa jawa banyak tuntutan nya tapi enak pa lagi ada orang jawa d suriname……..
maap yuk
pulau majeti tuh ada nya dmn sih tepat nya posisi nya koordinat nya mumpunk lg ada tugas Antropologi
klo leh n ada dana g lupa pula izin dari Nya kulo mao usulin rekreasi k pulau majeti biar guru2 kulo d sma yg asli jawa eleng karo budaya ne dewek !!!
last yuk modoh do’anya ya tuk lu2s ujian klo lu2s aku mau kull d jawa klo ada dana ndugi bapak kulo
nyuwon sewu yuk
AshSays :
Okei…
‘yuk’ maksude gimana itu?
dani said,
February 4, 2009 at 3:40 pm
bagus bgt …
AshSays :
Maturnuwun…
yerico said,
February 17, 2009 at 10:45 am
bagus tu boz,,hidup jawa tulen
San said,
February 19, 2009 at 4:55 am
Taeee a*** critamu elek banget
AshSays :
Woops! Sori untuk sensornya, soalnya umpatan dari komen emang tidak akan aku tampilkan di blog ini, jadi mau ga mau harus mau. Hehehe…
Makasih buat komennya, though.
sadengah said,
March 17, 2009 at 1:20 pm
Saupami bahasanipun radi mendalam malih kepripun nggih? amargi saengetkulo aksara jawi punika taksih kathah bahasan. wonten huruf, angka ugi aksara murdha kaliyan sandanganipun,(kula sampun radi kasupen). mbok manawi wonten dulur utawi sederek ingkang kagungan pangertosan ngengingi babakan aksara jawi ingkang lengkap, kulo tansah nenggo pembahasanipun. supados kito sedaya saged mangertos punapa ta sejatine tiyang jawi ugi falsfah punapa ta ingkang terkandung wonten ing sedaya aksara puniko lan ugi sekaliyan nguri-uri budoyo kito sedoyo supados tiyang jowo mboten ilang jawanipun. makaten atur kulo dhumateng paran para sedaya. matur nuwun
LANIIIIII! said,
April 21, 2009 at 8:32 pm
KALAU BIZZZA DIPERSINGKAT DONGKKKKKKKKK CERITANYA PUSING NIH KALAU KEBANYAKAN NGAFALLLLLLLL !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
kangmasjuqi said,
May 4, 2009 at 12:05 pm
maturnuwun ya mba ashiqa..
shinigami said,
May 10, 2009 at 11:43 am
salut dah, tnyt msh ad generasi muda indonesia yg peduli ma budaya bangsa
salut2….
kren dah….
bisthink said,
May 15, 2009 at 1:58 pm
wew gt yua ttg aji saka twuh??? thanks yus, soalnya qwu jd tw ttg sejarah twuh, sebelumnya cuma diceritain sekilas ma co.qwu. mpe coqwu wat nick pelesetan ajie_chaka, yaaa ktnya c terinspirasi ma aji saka
hmmmm… salut juga jaman skrg nweh msh peduli bgt ma budaya sendiri… kirain dah g da lg lohh…
^-^
kontol ngentot....aaakkkkhh said,
June 3, 2009 at 5:10 am
wow…..
kaya cerita adjiez hidayah…..
kalo mw liat adjiz lihat ini aza….
Rikky W said,
June 12, 2009 at 9:28 am
Bagus mas…. salut ternyata masih banyak anak muda yang kenal budaya jawa… Njer Basuki Mawa Bea…